MAKALAH ALIRAN PENDIDIKAN
25 Desember 2017
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
- Dari dulu sampai
sekarang ini pendidikan merupakan hal yang paling penting untuk membawa mereka
kepada kehidupan yang lebih baik, dan masalah sukses tidaknya pendidikan tidak
lepas dari factor pembawaan dan lingkungan. Pembawaan
dan lingkungan merupakan hal yang tidak mudah untuk di jelaskan
sehingga memerlukan penjelasan dan uraian yang tidak sedikit. Telah
bertahun-tahun lamanya para ahli didik, ahli biologi, ahli psikologi dan
lain-lain memikirkan dan berusaha mencari jawaban,
tentang perkembangan manusia itu sebenarnya bergantung kepada
pembawaan ataukah lingkungan. Dalam hal ini penulis akan memaparkan beberapa
pendapat dari aliran-aliran klasik, di antaranya aliran nativisme, naturalisme,
empirisme dan konvergensi, serta pengaruhnya terhadap pemikiran dan praktek
pendidikan di Indonesia, serta pandangan islam terhadap pendidikan.
1.2. Rumusan Masalah
Dalam makalah ini
penulis mempunyai rumusan masalah sebagai berikut:
1.
Bagaimana pendapat-pendapat aliran klasik terhadap pendidikan?
2.
Apa pengaruh aliran-aliran klasik terhadap pemikiran dan praktek
pendidikan di Indonesia?
3.
Bagaimana pandangan islam terhadap pendidikan?
1.3. Tujuan
Dalam pembahasan kali ini
pemakalah mempunyai tujuan sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pendapat
aliran-aliran klasik terhadap pendidikan.
2. Untuk mengetahui
pengaruh aliran-aliran klasik terhadap pemikiran dan praktek pendidikan di Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Aliran Pendidikan
Aliran-aliran pendidikan adalah pemikiran-pemikiran yang
membawa pembaharuan dalam dunia pendidikan. Pemikiran tersebut berlangsung
seperti suatu diskusi berkepanjangan, yakni pemikiran-pemikirn terdahulu selalu
ditanggapi dengan pro dan kontra oleh pemikir berikutnya, sehingga timbul
pemikiran yang baru, dan demikian seterusnya. Agar diskusi berkepanjangan itu
dapat dipahami, perlu aspek dari aliran-alira itu yang harus dipahami. Oleh
karena itu setiap calon tenaga kependidikan harus memahami berbagai jenis
aturan-aturan pendidikan.
Gagasan dan pelaksanaan selalu
dinamis sesuai dengan dinamika manusia dan masyarakatnya. Sejak dulu, kini
maupun dimasa depan pendidikan itu selalu mengalami perkembangan seiring dengan
perkembangan sosial budaya dan perkembangan iptek. Pemikiran-pemikiran yang
membawapembaharuan pendidikan itu disebut aliran-aliran pendidikan.Seperti bidang-bidang lainya, pemikiran –pemikiran dalam
pendidikan itu berlangsung seperti suatu diskusi berkepanjangan yakni
pemikiran-pemikiran terdahulu selalu ditanggapi dengan pro dan kontra oleh
pemikir-pemikir berikutnya, dan karena dialog tersebut akan melhirkan lagi
pemikiran-pemikiran baru dan demikian seterusnya. Dalam dunia pendidikan setidaknya terdapat 3 macam aliran
pendidikan, yaitu aliaran klasik, aliran modern dan aliran pendidikan pokok di
Indonesia.
B. Macam-macam Aliran - aliran Pendidikan
1. Aliran Klasik Dalam Pendidikan
Aliran ini merupakan pemikiran-pemikiran tentang pendidikan
yang telah dimulai pada zaman Yunani kuno, dan dengan kontribusi berbagai
bagian dunia lainnya, akhirnya berkembang dengan pesat di Eropa dan Amerika
Serikat. Aliran-aliran klasik meliputi aliran, nativisme, naturalisme,
empirisme dan konvergensi merupakan benang merah yang menghubungkan
pemikiran-pemikran poendidikan masa lalu, kini, dan mungkin yang akan datang.
a.
Empirisme
Aliran empirisme adalah aliran yang
berpendapat bahwa semua pengetahuan yang diperoleh manusia merupakan hasil dari
pengalaman manusia. Aliran ini beranggapan bahwa pengetahuan yang dimiliki
seseorang bukanlah bawaan sejak lahir atau bukan merupakan faktor keturunan. Aliran
ini menganut paham yang berpendapat bahwa segala pengetahuan, keterampilan dan
sikap manusia dalam perkembanganya ditentukan oleh pengalaman (empiris) nyata
melalui alat inderanya baik secara langsung berinteraksi dengan dunia luarnya
maupun melalui proses pengolahan dalam diri dari apa yang didapatkan secara
langsung (Joseph, 2006). Jadi segala kecakapan dan pengetahuanya tergantung,
terbentuk dan ditentukan oleh pengalaman. Sedangkan pengalaman didapatkan dari
lingkungan atau dunia luar melalui indra, sehingga dapat dikatakan
lingkunganlah yang membentuk perkembangan manusia atau anak didik. Bahwa hanya
lingkunganlah yang mempengaruhi perkembangan anak.
b.
Nativisme
Nativisme (aliran pembawaan) adalah
aliran yang berpendapat bahwa perkembangan seseorang ditentukan oleh bawaan
sejak ia dilahirkan. Dalam aliran nativisme faktor lingkungan dianggap kurang
memberi pengaruh terhadap perkembangan dan pendidikan anak. Seseorang akan
menjadi ahli lukis, agama, dan lain-lain itu semua semata-mata karena
pembawaan.
Aliran ini menganut paham yang
berpendapat bahwa segala pengetahuan, keterampilan dan sikap manusia dalam
perkembanganya ditentukan oleh pengalaman (empiris) nyata melalui alat
inderanya baik secara langsung berinteraksi dengan dunia luarnya maupun melalui
proses pengolahan dalam diri dari apa yang didapatkan secara langsung (Joseph,
2006). Jadi segala kecakapan dan pengetahuanya tergantung, terbentuk dan
ditentukan oleh pengalaman. Sedangkan pengalaman didapatkan dari lingkungan
atau dunia luar melalui indra, sehingga dapat dikatakan lingkunganlah yang
membentuk perkembangan manusia atau anak didik. Bahwa hanya lingkunganlah yang
mempengaruhi perkembangan anak.
c. Konvergensi
Konvergensi merupakan aliran pendidikan yang
berpendapat bahwa kepribadian manusia tergantung pada pendidikan, pembawaan,
dan lingkungan.
Faktor
pembawaan dan faktor lingkungan sama-sama mempunyai peranan yang sangat
penting, keduanya tidak dapat dipisahkan sebagaiman teori nativisme teori ini
juga mengakui bahwa pembawaan yang dibawa anak sejak lahir juga meliputi
pembaeaan baik dan pembawaan buruk. Pembawaan yang dibawa anak pada waktu lahir
tidak akan bisa berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan lingkungan yang sesuai
dengan pembawaan tersebut.
Dari beberapa uraian diatas, teori yang cocok dapat
diterima sesuai dengan kenyataan adalah teori konvergensi, yang tidak
mengekstrimkan faktor pembawaan, faktor lingkungann atau alamiah yang
mempengaruhi terhadap perkembangan anak, melainkan semuanya dari faktor-faktor
tersebut mempengaruhi terhadap perkembangan anak.
d. Aliran Naturalisme.
Aliran ini mempunyai kesamaan dengan teori nativisme
bahkan kadang-kadang disamakan. Padahal mempunyai perbedaan-perbedaan tertentu.
Ajaran dalam teori ini mengatakan bahwa anak sejak lahir sudah memiliki
pembawaan sendiri-sendiri baik bakat minat, kemampuan, sifat, watak dan
pembawaan-pembawaan lainya. Pembawaan akan berkembang sesuai dengan lingkungan
alami, bukan lingkungan yang dibuat-buat. Dengan kata lain jika pendidikan
diartikan sebagai usahan sadar untuk mempengaruhi perkembangan anak seperti
mengarahkan, mempengaruhi, menyiapkan, menghasilkan apalagi menjadikan anak
kearah tertentu, maka usaha tersebut hanyalah berpengaruh jelek terhadap
perkembangan anak. Tetapi jika pendidikan diartikan membiarkan anak berkembang
sesuai dengan pembawaan dengan lingkungan yang tidak dibuat-buat (alami) maka
pendidikan yang dimaksud terakhir ini berpengaruh positif terhadap perkembangan
anak.
2. Aliran
Pendidikan Moderen di Indonesia
Menurut
Mudyahardjo (2001: 142) macam-macam aliran pendidikan modern di Indonesia
adalah sebagai berikut:
a. Progresivisme
Progresivisme adalah gerakan pendidikan yang
mengutamakan penyelenggaraan pendidikan di sekolah berpusat pada anak (child-centered),
sebagai reaksi terhadap pelaksanaan pendidikan yang masih berpusat pada guru (teacher-centered)
atau bahan pelajaran (subject-centered).
- Tujuan pendidikan dalam aliran ini adalah melatih
anak agar kelak dapat bekerja, bekerja secara sistematis, mencintai kerja,
dan bekerja dengan otak dan hati. Untuk mencapai tujuan tersebut,
pendidikan harusnya merupakan pengembangan sepenuhnya bakat dan minat
setiap anak.
- Kurikulum pendidikan Progresivisme adalah kurikulum
yang berisi pengalaman-pengalaman atau kegiatan-kegiatan belajar yang
diminati oleh setiap peserta didik (experience curriculum).
- Metode pendidikan Progresivisme antara lain:
a)
Metode belajar aktif.
b)
Metode memonitor kegiatan belajar.
c)
Metode penelitian ilmiah
b. Esensialisme
Esensialisme modern dalam pendidikan adalah gerakan
pendidikan yang memprotes gerakan progresivisme terhadap nilai-nilai yang
tertanam dalam warisan budaya/sosial. Menurut esensialisme nilai-nilai yang
tertanam dalam nilai budaya/sosial adalah nilai-nilai kemanusiaan yang
terbentuk secara berangsur-angsur dengan melalui kerja keras dan susah payah
selama beratus tahun dan di dalamnya berakar gagasan-gagasan dan cita-cita yang
telah teruji dalam perjalanan waktu. Peranan guru kuat dalam mempengaruhi dan
mengawasi kegiatan-kegiatan di kelas.
- Tujuan pendidikan dari aliran ini adalah
menyampaikan warisan budaya dan sejarah melalui suatu inti pengetahuan
yang telah terhimpun, yang telah bertahan sepanjang waktu dan dengan demikian
adlah berharga untuk diketahui oleh semua orang.
- Metode pendidikan:
1.
Pendidikan
berpusat pada guru (teacher centered).
2.
Peserta
didik dipaksa untuk belajar
3.
Latihan
mental
- Kurikulum berpusat pada mata pelajaran yang
mencakup mata-mata pelajaran akademik yang pokok. Kurikulum sekolah dasar
ditekankan pada pengembangan ketrampilan dasar dalam membaca, menulis, dan
matematika.Sedangkan kurikulum pada sekolah menengah menekankan pada
perluasan dalam mata pelajaran matematika, ilmu kealaman, serta bahasa dan
sastra.
c.
Rekonstruksionalisme
Rekonstruksionalisme memandang pendidikan sebagai
rekonstruksi pengalaman-pengalaman yang berlangsung terus dalam hidup. Sekolah
yang menjadi tempat utama berlangsungnya pendidikan haruslah merupakan gambaran
kecil dari kehidupan sosial di masyarakat
- Tujuan pendidikan sekolah-sekolah
rekonstruksionis berfungsi sebagai lembaga utama untuk melakukan perubahan
sosial, ekonomi dan politik dalam masyarakat. Tujuan pendidikan
rekonstruksionis adalah membangkitkan kesadaran para peserta didik tentang
masalah sosial, ekonomi dan politik yang dihadapi umat manusia dalam skala
global, dan mengajarkan kepada mereka keterampilan-keterampilan yang
diperlukan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut.
- Kurikulum dalam pendidikan rekonstruksionalisme
berisi mata-mata pelajaran yang berorientasi pada kebutuhan-kebutuhan
masyarakat masa depan. Kurikulum banyak berisi masalah-masalah sosial,
ekonomi, dan politik yang dihadapi umat manusia. Yng termasuk di dalamnya masalah-masalah
pribadi para peserta didik sendiri, dan program-program perbaikan yang
ditentukan secara ilmiah.
d. Perennialisme
Perennialisme adalah gerakan pendidikan yang
mempertahankan bahwa nilai-nilai universal itu ada, dan bahwa pendidikan hendaknya
merupakan suatu pencarian dan penanaman kebenaran-kebenaran dan nilai-nilai
tersebut. Menurut perennialisme, ilmu pengetahuan merupakan filsafat yang
tertinggi, karena dengan ilmu pengetahuanlah seseorang dapat berpikir secara
induktif. Jadi dengan berpikir, maka kebenaran itu akan dapat dihasilkan.
Penguasaan pengetahuan mengenai prinsip-prinsip pertama adalah modal bagi
seseorang untuk mengembangkan pikiran dan kecerdasan.
- Tujuan pendidikan diharapkan anak didik mampu
mengenal dan mengembangkan karya-karya yang menjadi landasan pengembangan
disiplin mental. Karya-karya ini merupakan buah pikiran besar pada masa
lampau. Berbagai buah pikiran mereka yang oleh zaman telah dicatat
menonjol seperti bahasa, sastra, sejarah, filsafat, politik, ekonomi, matematika,
ilmu pengetahuan alam, dan lain-lainnya, telah banyak memberikan sumbangan
kepada perkembangan zaman dulu.
- Kurikulum berpusat pada mata pelajaran dan
cenderung menitikberatkan pada sastra, matematika, bahasa dan sejarah.
e. Idealisme
Aliran idealisme merupakan suatu aliran ilmu filsafat
yang mengagungkan jiwa. Menurutnya, cita adalah gambaran asli yang semata-mata
bersifat rohani dan jiwa terletak di antara gambaran asli (cita) dengan
bayangan dunia yang ditangkap oleh panca indera. Pertemuan antara jiwa dan cita
melahirkan suatu angan-angan yaitu dunia idea. Aliran ini memandang serta
menganggap bahwa yang nyata hanyalah idea. Tugas ide adalah memimpin budi
manusia dalam menjadi contoh bagi pengalaman. Siapa saja yang telah menguasai
ide, ia akan mengetahui jalan yang pasti, sehingga dapat menggunakan sebagai
alat untuk mengukur, mengklasifikasikan dan menilai segala sesuatu yang dialami
sehari-hari.
·
Tujuan Pendidikan
Agar anak didik bisa menjadi kaya dan memiliki
kehidupan yang bermakna, memiliki kepribadian yang harmonis dan penuh warna,
hidup bahagia, mampu menahan berbagai tekanan hidup, dan pada akhirnya
diharapkan mampu membantu individu lainnya untuk hidup lebih baik. Sedangkan
tujuan pendidikan idealisme bagi kehidupan sosial adalah perlunya persaudaraan
sesama manusia. Karena dalam spirit persaudaraan terkandung suatu pendekatan
seseorang kepada yang lain. Seseorang tidak sekadar menuntuk hak pribadinya,
namun hubungan manusia yang satu dengan yang lainnya terbingkai dalam hubungan
kemanusiaan yang saling penuh pengertian dan rasa saling menyayangi.
·
Kurikulum
Kurikulum yang digunakan dalam pendidikan yang
beraliran idealisme harus lebih memfokuskan pada isi yang objektif. Pengalaman
haruslah lebih banyak daripada pengajaran yang textbook. Agar supaya
pengetahuan dan pengalamannya senantiasa aktual.
34reee324reee324
Gerakan-Gerakan
Baru dalam Pedidikan dibagi menjadi 4 yaitu:
1.
Pembelajaran Alam Sekitar
Dasar pemikiran yang terkandung di
dalam pengajaran alam sekitar adalah peserta didik akan mendapat kecakapan dan
kesanggupan baru dalam menghadapi dunia kenyataan. Penjelajahan seseorang dalam
menemukan hal-hal baru, baik untuk pengetahuan, olah raga, maupun rekreasi
menjadikan program pendidikan alam sekitar dipandang sangat penting. Melalui penjelajahan
yang dilakukan, maka sekarang peserta didik, akan menghayati secara langsung
tentang keadaan alam sekitar, belajar sambil mengerjakan sesuatu dengan serta
merta memanfaatkan waktu senggangnya. Pendidikan alam sekitar ini mudah
dilaksanakan di segala jenjang pendidikan. Konsekuensinya, dalam persiapan
perlu dipikirkan tentang biaya ketika akan diadakan penjelajahan seperti halnya
biaya transportasi, biaya hidup selama penjelajahan, penginapan dan sebagainya.
- Pengajaran Pusat Perhatian (Centres D’interet)
Penemuan adalah Ovide Decroly (1871-1923), seorang
dokter perancis mendirikan yayasan untuk anak-anak abnormal yang bertempat
dirumahnya pada tahun1901. pada tahun1907 metodenya diterapkan pada anak-anak
normal. Pengajaran disusun menurut pusat perhatian anak, yang dinamai centres
d’interet. Decroly mencari dan menyelidiki naluri anak dalam pertumbuhannya
(secara intrinsik). Naluri yang perlu didapatkan adalah naluri untuk
mempertahankan diri,untuk makan, bermain dan bekerja, dari meniru. Berangkat
dari naluri tersebut selanjutnya disusun pusat perhatian seperti: untuk makan,
untuk berlindung, mempertahankan diri terhadap musuh, dan untuk bekerja. Yang
menarik pada pendidikan/ pengajaran Decroly yaitu bahwa anak selalu bekerja
sendiri tanpa ditolong dan dilayani.
3. Sekolah
Kerja
George Kerschensteiner (1854-1932) menulis karangan
tentang arbeitsshule. Ia seorang guru ilmu pasti yang diangkat sebagai
inspektur di Munchen. Pada tahun 1898 ia mengembangkan cita-cita pendidikan,
bagi kerschensteiner, tujuan hidup manusia yang tertinggi adalah mengabdi
kepada negara. Berhubungan dengan itu kewajiban sekolah yang terpenting ialah
menyiapkan peserta didik untuk sesuatu pekerjaan. Jadi yang menjadi pusat
tujuan pengajaran adalah kerja untuk menatap masa mendatang. Melalui bekerja,
manusia menuju ke lingkungan kebudayaan masyarakatnya. Peserta didik bekerja
berkelompok sesuai dengan bagian masing-masing, sehingga menimbulkan tanggung
jawab.
4. Pengajaran
Proyek
Proyek pengajaran berarti kegiatan, sedangkan belajar
mengandung arti kesempatan untuk memilih, merancang, berlatih, memimpin dan
sebagainya. Dalam hal ini penting ialah bahwa peserta didik telah aktif
memecahkan persoalan, maka wataknya akan terbentuk. Demikian konsep pemikiran
WH Kilpatrick di dalam pengajaran proyek.
3. Dua
aliran Pokok Pedidikan di Indonesia
a)
Perguruan Kebangsaan Taman Siswa
Pada zaman pemerintahan Hindia Belanda, ada salah
seorang putera Indonesia yang bernama Raden mas Soewardi Soerjaningrat. Ia
gemar menulis dengan menggunakan bahasa Belanda yang halus dan mengandung
sindiran terhadap pemerintah Belanda, tulisannya bejudul “Alks ik een
Nederlander was” yang artinya Andai saja saya seorang Belanda. Dari tulisannya
yang dianggap tajam oleh pemerintah Belanda inilah ia dibuang di Negeri
Belanda.
Ketika berada di tempat pembuangan beliau merasa bebas
dalam menyatakan pendapat-pendapatnya, sedang di tanah air sendiri yang
dikuasai oleh pemerintah penjajah Belanda justru kebebasannya terganggu. Dari
kecintaannya terhadap pendidikan yang sekaligus merupakan perwujudan dari
cita-citanya, maka pacta tanggal 3 juli 1922 di Yogyakarta didirikanlah suatu
taman kanak-kanak yang diberi nama Taman Indriya. Kemudian berkembang lagi dan
semakin luas hingga seluruh lembaganya diberi nama perguruan Kebangsaan Taman
Siswa.
Pada jaman penjajahan Belanda, Taman Siswa bersikap
“noncooperative” dan menolak pemberian subsidi. Di dalam melaksanakan konsep
pendidikannya Taman Siswa memiliki asas-asas sebagai berikut:
Asas merdeka untuk mengatur dirinya sendiri. Hendaknya
setiap peserta didik dapat berkembang menurut kodrat dan bakatnya,namun mereka
dididik dengan sistem among atau tut wuri handayani.
Asas Kebudayaan yang dalam hal ini kebudayaan
Indonesia sendiri.
Asas kerakyatan, pendidikan dan pengajaran harus diberikan kepada seluruh
rakyat.
Asas kekuatan sendiri (berdikari). Dengan demikian segala pembelanjaan ditutup
dengan uang pendapatan sendiri.
Asas berhamba kepada anak, pada saat Indonesia merdeka pada
tahun 1945, dan dua tahun berikutnya berhasil disusun dasar-dasar Taman Siswa
yang dikenal dengan Panca Darma. Kelima dasar yang dimaksud adalah:
Kemanusiaan
Harus ada cinta kasih terhadap sesama manusia dan terhadap seluruh makhluk
Allah SWT.
Kodrat Hidup
Termasuk
Kodrat hidup adalah pembawaan.
Kebangsaan
Tidak boleh bersifat chauvinistic ( menyombongkan kehebatan bangsa sendiri) dan
tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum manusia.
Kebudayaan
Kebudayaan nasional harus dipelihara. Pendidik harus mengajak peserta didik
meresapi jiwa bangsa yang terwujud dalam kebudayaannya.
Kemerdekaan
Kebebasan
Ki Hajar Dewantara juga menentukan semboyan bagi kaum
pendidik, antara lain: ing ngarso sung tulodho, artinya jika pendidik berada di
muka dia berkewajiban memberi teladan kepada para peserta didiknya. Ing madya
mangun karso artinya: jika di tengah membangun semangat, berswakarya, dan
berkreasi pada peserta didik. Tut wuri handayani artinya jika di belakang
pendidik mengikuti dan mengarahkan peserta didik agar berani berjalan di depan
dan sanggup bertanggung jawab.
b) Ruang Pedidikan INS di Kayutanam
Sebuah sekolah lain timbul sebagai reaksi terhadap
sekolah-sekolah pemerintah Hindia Belanda yaitu INS ( Indonesiche Nederlansce
School) di kayutanam, yaitu suatu kota kecil di dekat padang panjang Sumatera
Barat. Sekolah ini mempunyai rencana pelajaran dan metode sendiri yang hampir
mirip dengan rancangan kerschensteiner dengan arbeitsschulenya. M. Syafei
dengan sekolahnya ingin membentuk pemuda-pemuda Indonesia yang berani tegak
sendiri, berusaha sendiri, hidup bebas dan tidak tergantung buat seumur
hidupnya pada pemerintah sebagai pegawainya.
Adapun dasar
pemikiran INS adalah:
·
Percaya dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
·
Menentang intelektualisme,aktif, giat dan punya daya
cipta serta dinamis.
·
Memperhatikan bakat dan lingkungan siswa.
·
Berpikir secara rasional, bukan secara mistik.
Perlu juga diketahui bahwa ruang pedidikan INS terdiri
atas empat tingkatan yaitu:
Ruang rendah Sekolah Dasar 7 tahun. Ruang antara tahun (sambungan ruang rendah). Siswa
tamatan HIS atau Schakel tidak langsung dapat diterima pada ruang dewasa,
tetapi harus masuk ruang antara lebih dahulu. Ruang dewasa 4 tahun (sambungan
ruang antara atau ruang tengah).
Ruang
masyarakat 1 tahun
Pada semua tingkatan ruang, diberikan 50% mata
pelajaran umum dan 50% pelajaran kejuruan (Zahara Idris 1984:21). Menurut S
Purbakawatja (1970:212) M. Syafei menunjukan sifatnya sebagai pendidik yang
secara demokratis ingin memberi kesempatan kepada anak tumbuh dan berkembang
menurut garis masing-masing.
Sistem ini tidak mendapat tanggapan yang diharapkan
dari daerah lain karena terlalu banyak menuntut pengorbanan dari pendidiknya.
Mereka harus berani hidup sangat sederhana dan mungkin dalam kekurangan.
Keuntungan dari pendidikannya hanya dirasakan secara perorangan.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
·
Aliran
pendidikan adalah pemikiran-pemikiran yang membawa pembaruan dalam dunia pendidikan.
·
Macam-macam
Aliran - Aliran Pendidikan
1. Aliran klasik pendidikan
a. Aliran empirisme adalah aliran yang
berpendapat bahwa semua pengetahuan yang diperoleh manusia merupakan hasil dari
pengalaman manusia.
b. Aliran nativisme (aliran pembawaan)
adalah aliran yang berpendapat bahwa perkembangan seseorang ditentukan oleh
bawaan sejak ia dilahirkan.
c. Aliran konvergensi merupakan aliran pendidikan
yang berpendapat bahwa kepribadian manusia tergantung pada pendidikan,
pembawaan, dan lingkungan.
d. Aliran Naturalisme, aliran ini
mempunyai kesamaan dengan teori nativisme bahkan kadang-kadang disamakan.
2. Aliran
pendidikan moderen di Indonesia
b. Progresivisme adalah gerakan
pendidikan yang mengutamakan penyelenggaraan pendidikan di sekolah berpusat
pada anak (child-centered), sebagai reaksi terhadap pelaksanaan
pendidikan yang masih berpusat pada guru (teacher-centered) atau bahan
pelajaran (subject-centered).
c. Esensialisme modern dalam pendidikan
adalah gerakan pendidikan yang memprotes gerakan progresivisme terhadap
nilai-nilai yang tertanam dalam warisan budaya/sosial.
d. Rekonstruksionalisme memandang
pendidikan sebagai rekonstruksi pengalaman-pengalaman yang berlangsung terus
dalam hidup.
e. Perennialisme adalah gerakan
pendidikan yang mempertahankan bahwa nilai-nilai universal itu ada, dan bahwa
pendidikan hendaknya merupakan suatu pencarian dan penanaman kebenaran-kebenaran
dan nilai-nilai tersebut.
f. Aliran
idealisme merupakan suatu aliran ilmu filsafat yang mengagungkan jiwa.
·
Dua aliran Pokok Pedidikan di Indonesia
a. Perguruan Kebangsaan Taman Siswa
b. Ruang Pedidikan INS di Kayutanam
B. Saran
Demikian makalah ini saya buat, saya menyadari bahwa
makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Oleh
karena itu, kritik dan saran dari pembacasangat saya butuhkan. Guna perbaikan
makalah berikutnya. Dan semoga makalah ini bergunauntuk kita semua. Amin.
Daftar Pustaka
pengantar pendidikan/ALIRAN-ALIRAN
PENDIDIKAN _ MEYRA WENTY .htm
pengantar pendidikan/ALIRAN-ALIRAN
PENDIDIKAN _ MEYRA WENTY .htm
pengantar pendidikan/ALIRAN-ALIRAN
PENDIDIKAN _ Afidhatul Fatah's Site.htmm